LISTRIK AKAL AKALAN OLIGARKHI DAN TAIPAN?

Kholis MuhaiminPosted by

Pertama : sebagian besar pembangkit listrik khusus Jawa bali di kelola oleh swasta dengan skema PPP, dimana PLN sebagai pembeli power yang di hasilkan oleh pembangkit yang dimiliki swasta.Total kapasitas listrik Jawa bali itu 14.474 MW dengan 17 pembangkit. Yang dioperasikan sendiri oleh PLN melalui anak perusahaannya PT.
PJB mengelola 6 Pembangkit Tenaga Listrik di Pulau Jawa, dengan kapasitas total 6.511 Mega Watt.

Pada era SBY PLN merugi namun di era Jokowi PLN bisa untung. Bahkan selamat dari ancaman insolven. Upaya yang dilakukan adalah revaluasi asset. Tahun 2015 utang PLN Rp382,82. Utang tersebut, terdiri dari utang jangka pendek sebesar Rp123,48 triliun dan utang jangka panjang sebesar Rp259,33 triliun. Di sisi lain, total aset Rp1.234 triliun Aset tersebut, terdiri dari aset lancar sebesar Rp77,74 triliun dan aset tidak lancar sebesar Rp1.156 triliun. Jadi DER PLN masih sehat yaitu dibawah 40%.

Kedua
Pembiayaan PLN untuk yang dikelola sendiri biasanya menggunakan inkind Loan atau pinjaman dalam bentuk proyek jadi. Artinya sebelum proyek selesai dibangun utang belum diakui. Atau sebelum selesai dibangun resiko ada pada vendor dan lender. Makanya wajar kan kalau EPC di pegang oleh lender atau vendor. Dan bego amat kalau sampai mereka mau diatur bancakan dengan penguasa, karena kan pinjaman tidak tunai tapi barang.

Ketiga
UU kelistrikan bertujuan sebagai Agent of development. Kalau distribusi atau jaringan transmisi diserahkan ke swasta maka hanya konsumen kaya saja yang bisa dapat jaringan listrik. Makanya jaringan listrik masuk dalam PSO ( public Service obligation). Dan karana itu program PPP menjadi menarik bagi swasta untuk membangun Pembangkit.

Keempat
Dalam pembangun pembangkit oleh swasta, semua pembiayaan dan resiko termasuk hutang menjadi tanggung jawab investor. Dalam neraca PLN tidak ada utang karana adanya pembangkit yang dibangun swasta.

Lima
PLN berkewajiban membeli Power dari pembangkit swasta itu sesuai PPA. Itupun dengan kondisi 50% dari kapasitas power yang ada harus sebagai standby reserve. Jadi contoh kapasitas 2x 50 MW, maka yang di bayar adalah 50 MW, yang satu lagi jadi stanby. Mengapa ? Karana sebagai buyer , PLN engga mau kalau satu turbin bermasalah mengakibatkan pemadaman lama. Makanya satu turbin yang standby langsung nyala. Swasta hanya membangun apabila sudah ada PPA. Dan PLN tidak akan Teken PPA kalau jumlah power yang dibeli tidak sesuai kebutuhannya. Dan swasta tidak mungkin bangun diatas kapasitas kebutuhan PLN yang diatur dalam PPA.

Enam
Subsidi diberikan kepada rakyat yang benar benar tidak mampu. 82% konsumen PLN adalah rumah tangga yang tingkat marginnya rendah karana ketentuan dari UU tentang tanggung jawab PLN melaksanakan PSO. Sementara margin yang tinggi dari penjualan kepada kelompok bisnis yang hanya 17,7 %.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *